Senin, Januari 12, 2009

Libur 1

Wah udah lama banget gak ngisi blog ini, solanya kadang kala tergantung mood sih..kalo lagi males ya lama banget gak pernah ngisinya tapi kali ini lagi muncul moodnya jadi langsung di gunakan..

======================================================================

Alhamdulillah libur panjang kemarin akhirnya bisa pulang juga ke ibukota. Plus tanggal 30 dan 31 Desembernya dapat cuti dari kantor jadi liburnya agak lumayan panjang.

Berangkat dari Denpasar tanggal 25 siang jam 11 naik Lion Air. Dan kali ini tepat waktu, mungkin karena ini adalah penerbangan awal jadinya kalo di awal udah telat otomatis kesemuanya ikutan telat juga penerbangannya.

Penerbangan selama 1 jam 25 menit dilalui dengan sekejap karena saya ketiduran. Soalnya meskipun masih tergolong pagi entah kenapa kalo naik pesawat bawaannya ngantuk aja. Apalagi ditambah gak ada bacaan atau mp3 player untuk denger musik. Pas dah...

Sampai di Jakarta sudah jam 1/2 12an, karena perbedaan waktu 1 jam. Langsung naik damri jurusan Rawamangun. Disambung dengan taksi, soalnya mau naik angkot, mata masih ngantuk. Daripada terjadi hal yang ngga2 lebih baik ambil amannya saja.

Kali ini pulangnya ke Pondok Kelapa dulu besok malem baru ke rumah mertua. Adik saya akhirnya sudah dapat kerja lagi dan kali ini dia kerja di PT Rekso, holdingnya Sosro. Lama gak ketemu kita ngobrolin biasa yang kita dulu sering obrolin yakni game dan anime.

Malem sabtunya baru meluncur ketempat isri di daerah Meruya. Berangkatnya agak malem soalnya rencana mau pinjem motor adik yang masih di pakai untuk kerja. 

Jakarta sekarang lalu lintasnya sudah benar2 gak beraturan. Sudah dua kali berangkat malem dari pondok kelapa ke meruya dan suasana lalu lintas khususnya motor benar2 buat deg2an. Padahal semasa di Jakarta dari dulu juga sudah bawa motor tapi kali ini sesuatu telah berubah dan bukannya menjadi lebih baik.

Rawan? dari dulu juga sudah rawan. Ugal2an? dari dulu juga sudah begitu. Lantas apa ya? Something has change, really2 change......

....bersambung

Senin, Desember 15, 2008

Seminggu yang lalu ...


Allah Akbar ..Allah Akbar.. Allah Akbar.. Laa Ilaahaillalahu Allah Akbar.. Allah Akbar Walilla Ilham..

Kumandang takbir kembali bergema sambut Hari Raya Idul Adha 1429 H. Berkumpulah seluruh keluarga guna merayakan hari besar ini.

Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putra tercinta dan satu-satunya yakni Nabi Ismail AS adalah sebuah sejarah tentang betapa penyerahan hidup seutuhnya haruslah hanya kepada Sang Khalik semata. Putra semata wayang yang Nabi Ibrahim peroleh setelah sekian lama memohon dan bermunajat tiada henti kepada Allah dan kini harus di kembalikan lagi kepadaNya.

Tak terasa sudah satu minggu kita meninggalkan hari raya tersebut. Adakah perenungan terhadap pengorbanan ini telah dilakukan? Karena terkadang hal ini luput dari hati. Entah berkurban hanya dengan seekor kambing ataukah dengan seekor sapi, tetapi makna yang terkandung seringkali bias atau bahkan tidak ada sama sekali. 

Bagi sebagian yang berkecukupan mungkin berkorban seperti itu bukanlah hal yang sulit. Namun bagi sebagian yang lain berkorban seperti itu membutuhkan usaha dan kerja yang amat keras. Barangkali kita pernah mendapatkan email dari sahabat ataupun pernah membacanya melalui situs-situs muslim mengenai sebuah kisah tentang perjuangan seorang pensiunan pegawai negeri untuk membeli seekor kambing guna dikurbankan. Betapa ia harus menyisihkan setiap bulannya demi tujuan tersebut, dan ternyata setelah melalui jalan yang berat tsb ia mampu membeli seekor kambing yang terbaik.

Idul Adha atau Idul Qurban adalah bukti dari tulus dan ikhlasnya berkorban demi Lillahi Ta’ala. Ikhlas? Ya betul ikhlas, bayangkan saja kita telah membeli sesuatu yang paling indah, yang terbaik lalu kemudian kita berikan kepada orang lain. Andaikata kurban tersebut (kambing atau sapi) diganti dengan hal yang menurut kita paling signifikan, entah itu kendaraan yang baru kita beli atau mungkin jam yang teranyar hasil dari bonus atakah handphone tercanggih keluaran terbaru. Yang kemudiannya kita berikan kepada orang lain untuk disumbangkan, apakah kita mampu dan sanggup untuk melakukannya? Karena mungkin saja hal tersebut adalah hal yang telah lama kita idam-idamkan untuk dimiliki.

Pernahkah kita sejenak berpikir tentang makna dari Qurban itu sendiri? Apakah makna berbagi pernah terlintas? Ataukah yang terlintas pemikiran bahwa ini hanyalah salah satu pengeluaran yang harus dilakukan? Renungkanlah wahai sahabatku.
"supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan[985] atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak[986]. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. " ( Al Hajj : 28 )




Jumat, November 21, 2008

jendela...

Sudah hampir dua minggu ini ngga ngepost apa2 di blog ini. Selain kerjaan yang lagi numpuk plus baru aja menjenguk istri di Jakarta.

Sekarang coba untuk menulis lagi, seperti kata Tyo, seorang sahabat dari SMP, bahwa sekarang sudah jamannya kita harus menulis. Memberikan inspirasi dan akhirnya buat blog deh...

=======================================================================================

Beberapa hari yang lalu, di hari yang tidak begitu panas ada pemandangan menarik diluar jendela kantor. Karena kebetulan posisi duduk saya ada di sebelah jendela besar menghadap ke Timur, jadi setiap pagi saya selalu mendapatkan supply vitamin D yang cukup banyak. Untungnya setelah jam 10 an ke atas, panasnya sudah mulai meninggalkan lokasi duduk saya.

Ada sepasang burung yang lagi asyik bercanda di besi bekas dudukan AC. Memang sih kelihatannya seperti hal yang sepele , tapi kalau di amati dan di renungi lagi. Maka akan muncul suatu perasaan yang luar biasa takjubnya. 

Saya sering melihat "adegan" seperti di televisi tetapi yang sungguh2 terjadi di depan mata dan benar2 dimaknai, mungkin baru kali kemarin. Betapa Allah dengan keMahaannya telah menciptakan suatu makhluk yang kecil, lucu dan bisa terbang.

Sebetulnya kita bisa lihat hal semacam ini di kebun binatang atau taman margasatwa, dan hal ini adalah biasa. Tetapi di alam lepas dan luas, pernahkah kita perhatikan? Terkadang kita terlalu sibuk atau terlalu cuek untuk sekedar menikmati Mahakarya dari Sang Kuasa.

Karenanya duduk di sebelah jendela besar menghadap Timur, setelah direnungi ternyata banyak membawa berkah. Teramat banyak kejadian yang terlalu sayang untuk di lewatkan. 

Sahabat, bila saat ini engkau duduk disamping atau di dekat jendela, bersyukurlah. Sebab setiap pagi cahaya matahari akan selalu setia menyapamu, memberikan kesegaran di pagi hari, betapapun bete nya dirimu ketika berangkat ke tempat kerja. Daun pohon yang bergoyang, lalu lalang lalu lintas di jalan raya. Rekan kerja yang baru datang ataupun yang pulang ketika jam kerja usai. Basahnya jendelamu karena hujan. Bulir-bulir air yang menempel. Cerahnya hari atau mendungnya cuaca. Kesemuanya dapat engkau lihat dari sebuah jendela.

Lihatlah sejenak keluar dan nikmati pemandangan yang mungkin tidak dimiliki oleh rekan kerja yang lain. Ambilah waktu sekitar 10 menit untuk sejenak bertafakur dan bersyukur atas hidup dan kehidupan ini. Seperti sabda Rasulullah SAW , " ... dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir) ... " (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani). Alangkah Mahanya Sang Khalik. Yang telah menciptakan bumi dan seisinya.

"Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." ( Ar - Ra'd : 4 )