Jumat, Oktober 24, 2008

Pojok Renungan 2...

Hari ini salah seorang rekan kerja mendapatkan hal yang sudah lama ditunggu-tunggunya. Akhirnya dia dapat pindah ke kota tempat suaminya bekerja.

Kita semua yang berada dalam bidang yang samapun turut merasakan kebahagiaan yang diperolehnya. Namun sebersit kesedihanpun tergurat. Setelah sekian tahun kita bekerjasama dalam satu tim, kini saatnya untuk berpisah.

Sedih, haru dan tangis pastinya akan ada bila tiba waktunya untuk berpisah.

Di setiap perjumpaan pasti akan ada perpisahan. Ada yang datang pasti ada yang pergi. Meskipun kita tidak dapat mengetahui kapan tibanya waktu itu.

Bilamana perpisahan itu terjadi untuk selamanya, akankah kita siap? 

Biasa kita sebut perpisahan semacam itu dengan sebutan kematian. Sesuatu yang pasti terjadi dan tak mungkin terelakkan.

Apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambutnya? Akankah ada derai airmata dan isak tangis yang kita siapkan? Ataukah keikhlasan dan keridhoan yang kita berikan?

Pernahkah kita mencoba untuk membicarakan tentang mati? Atau adakah pembahasan secara besar-besaran tentang kematian? Saya rasa minim orang yang hadir.

Mengapa orang takut akan mati? Padahal itulah hal yang paling dirindukan oleh para pencari dan kekasihNya. Untuk dapat bertemu dengan sang kekasih sejati.

Kita rindu bila berpisah dengan orang yang kita kasihi. Kita ingin segera bertemu bila telah lama berpisah. Lalu rindukah engkau kepadaNya? Inginkah engkau bertemu denganNya?

Apakah engkau lebih mencintai dunia ini dibandingkan denganNya? Padahal setelah Allah SWT menciptakan dunia. Dia telah memalingkan wajahNya untuk dunia ini, seakan dunia adalah sesuatu yang hina.

Pilihlah dengan bijak sahabatku. Karena disanalah letak keimanan dan ketakwaan kita terhadap Sang Khalik teruji.

"Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan." (Al Munaafiquun : 11) 

Kamis, Oktober 23, 2008

Info...

Jamsostek bisa Merugi Rp 5,4 Triliun

(Majalah Forum, 19 Oktober 2008) - 

PT Jaminan Sosial tenaga Kerja (Jamsostek) berpotensi kehilangan dana senilai Rp 5,4 triliun akibat ambruknya indeks harga Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Maklum, BUMN asuransi itu telah menanamkan investasi sebanyak Rp 11 triliun di berbagai jenis sham blue chips (unggulan) di lantai bursa.

Direktur Utama Jamsostek, Hotbonar Sinaga, mengungkapkan potensi itu dihitung dari penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 48%, dari posisi tertinggi 2.830.263 poin menjadi 1.451.669 poin. "Kalau saham anjlok, tentunya kami merugi karena nilai investasi Jamsostek turun pula 48% (dari total Rp 11 triliun)," kata Hotbonar Sinaga. Investasi di bursa saham itu meliputi 18% dari total dana yang boleh dikelola Jamsostek sebesar Rp 62 triliun.

Hotbonar menegaskan investasi dana Jamsostek selama ini kebanyakan ditempatkan pada produk obligasi dan deposito. Sebanyak 46% diinvestasikan untuk obligasi, sisanya adalah deposito. Dana deposito Jamsostek yang bernilai Rp 20 triliun diperkirakan bisa menangguk untung dengan naiknya tingkat sukubunga perbankan.

Rabu, Oktober 22, 2008

Untukmu...

Di suatu sore sekitar pertengahan tahun 2000. Di sebuah warung tenda di pinggir jalan. Bersama seorang sahabat, saya sedang menikmati nasi goreng.

Sore itu terasa sejuk, karena hujan baru saja turun. Untuk mendinginkan walau sesaat suhu udara Semarang yang selalu panas, meskipun di malam hari.

Tiba-tiba melintaslah seorang bapak yang sudah cukup lanjut usianya. Sambil memikul dirigen air di kedua ujungnya. Bolak balik di depan warung tempat kami makan tanpa kami tahu kemana tujuannya. Yang pasti hal itu dilakukannya berulang kali.

Sang sahabat tiba-tiba saja meneteskan airmata tanpa saya tahu apa yang terjadi padanya. Kejadiannya begitu cepat. Apakah ada yang mengganggu dalam hatinya? Saat itu saya tak bertanya apapun padanya.

"Hentikan bapak itu", pintanya. "Ajak dia makan di sini", pintanya lagi. Meskipun ada sejuta tanya yang menggelayut tapi saya putuskan untuk menunggu di luar tenda sampai bapak itu lewat kembali.

Ketika melewati warung tenda tempat kami makan. Saya hentikan bapak itu. "Bapak, bolehkah saya membelikan bapak makan?". Bapak itu melihat ke arah saya dengan heran dan kemudian berkata, "Terima kasih mas, saya baru saja makan".

Takut mengecewakan sahabat saya, segera saya selipkan beberapa lembar ribuan ke dalam gengaman tangan si bapak, sambil berujar, "Bapak, mohon diterima. Memang tidak seberapa tapi mudah-mudahan berguna untuk keluarga bapak."

Bapak tersebut langsung menolak dengan halus. Tapi tetap saja saya paksakan dengan menyelipkan di kantong celananya. Sampai akhirnya dia tidak mampu lagi menolaknya. Setelah mengucapkan terima kasih kemudian berlalulah si bapak itu untuk kembali bekerja. 

Saya lalu kembali masuk ke warung untuk meneruskan makan. Si sahabat bertanya,"Kenapa gak di ajak makan di dalam saja bapak tadi?". "Kasihan bapak itu sudah seharian kerja pasti cape"."Di tambah bapak itu sudah tua".

Saya katakan, "Bapak itu sudah makan dan tadi adalah pekerjaan terakhirnya. Setelah ini dia akan pulang". "Tapi tadi sudah saya berikan beberapa ribu untuk tambahan penghasilannya hari ini".

"Oh gitu ya..". Selesai berujar, sang sahabat pun kembali melanjutkan makannya.

Yang membuat saya heran dan bertanya-tanya, kenapa si sahabat sampai meneteskan airmata. Mungkinkah karena mengingatkan akan kedua kakek neneknya yang ada di seberang sana? Ataukah hatinya yang tersentak melihat kejadian tersebut di depan matanya sendiri? Ataukah kepeduliaannya yang tinggi terhadap orang lain yang tidak seberuntung kita? Atau ... Terlalu banyak kemungkinan yang bisa terpikirkan oleh saya saat itu.

Yang pasti di jaman seperti ini, masih ada orang yang bisa meneteskan airmatanya karena hal seperti itu. Bagi saya hal itu sangat membekas dan sangat luar biasa. Padahal mungkin bagi kita, hal itu adalah sesuatu yang biasa dan wajar-wajar saja.

Sampai saat inipun, belum pernah saya tanyakan kepada dirinya, alasan yang membuatnya seperti itu. Meskipun kini kami telah hidup bersama.

Ya...sahabat itu kini telah menjadi bagian dari hidup saya yang paling berharga dan yang paling spesial. Dialah yang telah memberi warna dalam kehidupan saya. Memberikan semangat ketika jatuh dan mengingatkan untuk selalu tetap berada di "bumi" ketika di atas. Dialah tulang rusuk ini. Dia adalah istriku, Eva Yuliasta.

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (Ar Ruum : 21)