Rabu, Oktober 29, 2008

di sebuah siang...

Suatu saat Khalifah Umar ibn Khaththab pernah menuliskan  surat kepada seluruh gubernur : “Hisablah diri kalian saat berada dalam kelapangan sebelum kesusahan. Karena, sesungguhnya barang siapa menghitung dirinya pada masa kelapangan sebelum masa kesusahan, maka akan membuat dirinya ridha dan berlapang dada (bila kesempitan datang). Barang siapa yang dibuat lalai oleh hidupnya, dibuat sibuk oleh hawa nafsunya, pasti akan mendatangkan penyesalan dan kerugian”.

Saat itu jam istirahat untuk makan siang dan biasanya saya melakukannya sedikit agak telat. Biasanya setelah solat Zuhur. 

Sambil menunggu waktu Zuhur saya browsing website eramuslim. Saya buka kolom yang judulnya "Bercermin pada salaf". Dan ada artikel dengan judul "Adakah sisa kebaikanmu?".

Subhanallah, setelah membacanya saya sempat tertegun dan tersentak ketika membaca salah satu paragraf yang saya cuplik di awal blog ini. Betapa begitu berhati-hatinya seorang Umar ibn Khathab tentang permasalahan dunia.

Lalu sejenak saya rebahkan diri di kursi tempat saya duduk. Lalu sempat bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah seperti itu? Apakah saya pernah menyempatkan untuk menghisab diri ini? Apakah selama ini secara sadar ataupun tidak sadar sering mengikuti nafsu duniawi?

Ya Allah ternyata diri ini masih jauh dari surgaMu, bahkan mencium aromanya pun belum bisa. Mungkin keadaan ini seperti sebuah kalimat yang pernah diucapkan Abunawas dalam doanya, "Ya Allah, aku tidak sanggup untuk masuk ke dalam nerakaMu tapi akupun juga tidak pantas untuk masuk ke surgaMu".

Siang itu saya mendapatkan sebuah ilmu yang sangat berharga tentang kehidupan. Tentang dalamnya makna untuk selalu bermuhasabah. Tentang sebuah kelalaian yang merugikan.

"agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya".  (Ibrahim : 51)

Senin, Oktober 27, 2008

Selamat bekerja

Setelah sekian lama tidak turun hujan, akhirnya subuh tadi hujan turun. Sehingga pagi ini udara begitu sejuk. 

Meskipun waktu mau berangkat ke kantor masih agak gerimis tapi masih bisa di lalui dengan tanpa jas hujan. Lalu berangkatlah perjalanan ke tempat kerja.

Setiap hari Senin ketika aktivitas bekerja akan dimulai. Seluruh karyawan kantor berkumpul di ruang pertemuan untuk sejenak menundukkan kepala dan berdoa. Seraya memohon agar seluruh pekerjaan yang akan dikerjakan selalu mendapatkan ridho dan petunjukNya.

Setelah itu melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Dengan kesibukan melayani peserta sekaligus melakukan pekerjaan rutin sehari-hari, maka dibukalah lembar yang baru di hari yang baru dan di minggu yang baru pula.

Selamat bekerja sahabatku. Berikan yang terbaik kepada pekerjanmu tetapi jangan pernah meninggalkan kewajibanmu sebagai hambaNya.

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." ( Al Jumu'ah : 10 )

 

Jumat, Oktober 24, 2008

Pojok Renungan 2...

Hari ini salah seorang rekan kerja mendapatkan hal yang sudah lama ditunggu-tunggunya. Akhirnya dia dapat pindah ke kota tempat suaminya bekerja.

Kita semua yang berada dalam bidang yang samapun turut merasakan kebahagiaan yang diperolehnya. Namun sebersit kesedihanpun tergurat. Setelah sekian tahun kita bekerjasama dalam satu tim, kini saatnya untuk berpisah.

Sedih, haru dan tangis pastinya akan ada bila tiba waktunya untuk berpisah.

Di setiap perjumpaan pasti akan ada perpisahan. Ada yang datang pasti ada yang pergi. Meskipun kita tidak dapat mengetahui kapan tibanya waktu itu.

Bilamana perpisahan itu terjadi untuk selamanya, akankah kita siap? 

Biasa kita sebut perpisahan semacam itu dengan sebutan kematian. Sesuatu yang pasti terjadi dan tak mungkin terelakkan.

Apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambutnya? Akankah ada derai airmata dan isak tangis yang kita siapkan? Ataukah keikhlasan dan keridhoan yang kita berikan?

Pernahkah kita mencoba untuk membicarakan tentang mati? Atau adakah pembahasan secara besar-besaran tentang kematian? Saya rasa minim orang yang hadir.

Mengapa orang takut akan mati? Padahal itulah hal yang paling dirindukan oleh para pencari dan kekasihNya. Untuk dapat bertemu dengan sang kekasih sejati.

Kita rindu bila berpisah dengan orang yang kita kasihi. Kita ingin segera bertemu bila telah lama berpisah. Lalu rindukah engkau kepadaNya? Inginkah engkau bertemu denganNya?

Apakah engkau lebih mencintai dunia ini dibandingkan denganNya? Padahal setelah Allah SWT menciptakan dunia. Dia telah memalingkan wajahNya untuk dunia ini, seakan dunia adalah sesuatu yang hina.

Pilihlah dengan bijak sahabatku. Karena disanalah letak keimanan dan ketakwaan kita terhadap Sang Khalik teruji.

"Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan." (Al Munaafiquun : 11)